Gambar pohon di atas adalah pohon sancang
Sancang merupakan jenis tanaman berbunga yang masuk dalam keluarga Lamiaceae, masih bersaudara dengan jati. Pertama kali, jenis ini dideskripsikan pada 1771 dan sampai sekarang telah memiliki sekitar 200 spesies berbeda yang mayoritas tersebar di Asia bagian tropis.
Pakar dendrologi dari Fakultas Kehutanan UGM, Dwi Tyaningsih Adriyanti, mengatakan bahwa pertama kali pohon sancang ini ditemukan di China, Jepang, dan sekitarnya. Namun seiring bergulirnya waktu, pohon ini menyebar luas ke wilayah tropis di Asia terutama Asia Tenggara, Australia bagian utara, serta Afrika.
Beberapa spesies sancang yang ditemukan di Indonesia di antaranya Premna decurrens dan Premna parasitica yang hanya ada di Indonesia, Premna pallescens hanya ada di Kalimantan, Premna trichostoma hanya ada di Papua, Premna regularis dan Premna oblongata yang hanya ditemukan di Indonesia dan Filipina, Premna fulva, Premna herbacea, Premna pubescens, serta Premna serratifolia.
Premna serratifolia merupakan yang paling umum digunakan sebagai tanaman bonsai. Jenis sancang ini tersebar hampir di seluruh daerah di Asia Tenggara, Afrika timur, Australia bagian utara, serta anak benua India.
Proses pohon menjadi bonsai sebenarnya bisa terjadi secara alami. Pasalnya, di alam pohon-pohon akan saling berkompetisi untuk mendapatkan cahaya maupun nutrisi. Pertumbuhan pohon-pohon yang tertekan kemudian menjadi tidak optimal, sehingga sering dijumpai pohon menjadi kerdil.
Bentuk penampakan pohon yang tertekan ada banyak macam, salah satunya membonsai.
Secara alami, sancang sebenarnya tumbuh secara liar di hutan. Sancang memiliki perawakan pohon yang mampu mencapai ketinggian 7 sampai 8 meter ketika sudah dewasa.
Daun pohon sancang berbentuk bulat telur dengan ukuran panjang sekitar 9 cm dan lebar sekitar 6 cm. Pohon ini memiliki bunga yang berukuran kecil dengan warna putih kekuningan.
Pohon sancang juga berbuah, bentuknya bulat kecil dengan warna hijau ketika masih muda dan akan menjadi ungu ketika sudah tua.
Perbanyakan pohon sancang bisa dilakukan secara vegetatif menggunakan metode stek batang. Seperti halnya pohon jati, pohon sancang juga memerlukan perawatan sejak ditanam jika menginginkan pertumbuhan pohon yang optimal.
Penelitian yang dilakukan oleh Roza Dianita dan Ibrahim Jantan, peneliti dari Herbal Research Center Fakultas Farmasi Universitas Kebangsaan Malaysia, menuliskan bahwa genus Premna memang kerap digunakan sebagai pengobatan tradisional, terutama untuk mengobati peradangan, penyakit terkait kekebalan tubuh, gangguan perut, penyembuhan luka luar, serta penyakit kulit.
Penelitian tersebut mengumpulkan informasi yang tersedia tentang penggunaan etnofarmakologi, fitokimia, dan studi bioaktivitas pada lebih dari 20 spesies Premna dan secara kritis menganalisis laporan untuk memberikan perspektif dan arahan untuk penelitian masa depan untuk tanaman sebagai sumber potensial arahan obat dan agen farmasi.
Lebih dari 250 senyawa telah diisolasi dan diidentifikasi dari spesies Premna yang terdiri atas diterpenoid, glikosida iridoid, dan flavonoid sebagai metabolit sekunder yang paling umum diikuti oleh seskuiterpen, lignan, fenilethanoid, megastigmanes, gliseroglikolipid, serta ceramides.
“Banyak penelitian in vitro dan in vivo telah dilakukan untuk mengevaluasi sifat biologis dan farmakologis ekstrak, dan senyawa yang diisolasi dari spesies Premna dan aktivitas antimikroba, antioksidan, antiinflamasi, imunomodulator, antihiperglikemia, dan sitotoksik,” tulis Roza Dianita dan Ibrahim Jantan dalam penelitian tersebut





